Rabu, 20 Maret 2013

Konfigurasi Base Station WiMAX buatan Hariff


Berikut ini akan di jelaskan hasil capture screen proses konfigurasi base station WiMAX buatan Hariff


Cara konfigurasi Base Station WiMAX pada peralatan buatan Hariff adalah menggunakan Web. Seperti layaknya peralatan jaringan yang di konfigurasi melalui Web. Pertama-tama kita akan disuguhi menu login pada web. Kita perlu memasukan username dan password administrator pada Base Station WiMAX sesuai dengan manual-nya.


Tampilan yang akan di perlihatkan setelah kita berhasil masuk ke Base Station WiMAX adalah status kondisi Base Station dan jaringan yang tersambungnya. Ada beberapa parameter utama yang di tampilkan, seperti,
Di sebelah kiri terdapat beberapa menu yang berkisar tentang
  • Konfigurasi Base Station (BS)
  • Konfigurasi [Subscriber Station]] (SS)
  • Catatan dan Statistik


Pada menu konfigurasi BS yang terdapat di lajur kiri terdapat beberapa submenu seperti
  • Konfigurasi BS itu sendiri.
  • Upgrade firmware
  • Reboot BS
Secara umum konfigurasi BS itu sendiri terbagi dalam dua (2) jenis konfigurasi, yaitu,
  • Konfigurasi Dasar (Basic Configuration)
  • Konfigurasi Tingkat Lanjut (Advanced Configuration)


Tidak banyak yang dapat / perlu di set di konfigurasi dasar (Basic Configuration), antara lain adalah,
  • Lokasi Server Network Manajemen. Untuk Jaringan yang sederhana sebaiknya lokasi NMS cukup menggunakan fasilitas lokal yang ada di Base Station (BS).
  • DHCP Server. Untuk jaringan yang sifatnya tetap / fixed sebaiknya DHCP server dimatikan.
  • Syslogd untuk mencatat kejadian di Base Station sebaiknya menggunakan fasilitas yang lokal ada di BS.


[edit] Lebih detail teknik konfigurasi Base Station WiMAX

Lebih detail konfigurasi dari Base Station di perlihatkan pada menu konfigurasi Advanced. Ada beberapa menu utama yang di sediakan pada menu konfigurasi Advanced dari Base Station WiMAX, yaitu,
  • Network Server
  • Cell Profile.
  • MAC Profile.
  • PHY Profile.
  • RF Profile.
  • Cell Timer.
Yang akan banyak digunakan dalam konfigurasi Base Station WiMAX adalah,
  • PHY Profile.
  • RF Profile.


Pada menu Advanced → RF Profile, kita biasanya minimal perlu mengkonfigurasi 2-3 hal, yaitu,
  • Mode Duplex – ada dua (2) pilihan, yaitu, TDD dan FDD. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Pada TDD frekuensi digunakan bergantian antara Base Station dan Client. Pada FDD frekuensi yang digunakan lebih lebar, tapi tidak perlu bergantian menggunakan frekuensi.
  • Downlink Frekuensi – yang digunakan untuk kanal downlink dari Base Station. Frekuensi dapat diset menggunakan mouse.
  • Uplink Frekuensi – yang digunakan untuk kanal uplink dari Base Station. Frekuensi dapat di set menggunakan mouse.
Selain itu, ada beberapa parameter lain yang dapat di set seperti,
  • TX Power dari Base Station.
  • Receive Signal Strength.
  • Gain Antenna.
  • Cable Loss – jika menggunakan kabel pigtail.




Pada menu Advanced → PHY Profile, kita dapat mengkonfigurasi beberapa hal yang di atur oleh peraturan pemerintah, seperti,
  • Channel Bandwidth – menurut peraturan 5MHz. Dapat di set pada channel bandwidth yang lain seperti 3.5MHz atau 7MHz. Semakin lebar channel bandwidth yang dialokasikan semakin lebar bandwidth yang dapat dikirim.
  • Cyclic Prefix – biasanya 1/16. Kita dapat menset ¼, 1/8, 1/16 atau 1/32.
  • Frame Duration – menurut peraturan 5 ms. Kita dapat menset dari 2.5ms, 4ms, 5ms, 8ms, 10ms, 12.5ms, 20ms.
Masih ada beberapa menu tambahan yang dapat kita ubah / tune, seperti,
untuk jaringan yang sederhana kita dapat menggunakan nilai default dari parameter tersebut.


Pada menu SS pada Base Station WiMAX kita pada dasarnya mendefinisikan dua (2) hal, yaitu,
Pada menu SS akan terlihat daftar / tabel QoS yang aktif.




Dalam mengkonfigurasi QoS, beberapa hal minimal yang biasanya akan kita konfigurasi adalah,
  • Direction – ada dua (2) pilihan, yaitu, UPSTREAM atau DOWNSTREAM
  • Tipe Scheduling – ada beberapa pilihan, seperti, Best Effort (BE), Non-Real-Time Polling Service (NRTPS) , Real-Time Polling Service (RTPS) dan Unsolicited Grant Service (USG)
  • Spesifikasi CS – Pilihan jenis paket yang di lewatkan; ada beberapa pilihan, seperti, Packet, 802.3/Ethernet , Packet, 802.1QVLAN , Packet, IPv4 over 802.3/Ethernet , Packet, IPv4 over 802.1Q VLAN
  • Maximum Traffic – maksimum traffic yang di ijinkan untuk di lewatkan melalui QoS yang kita set.
Yang membedakan WiMAX dengan WiFi terutama pada setting QoS ini. Pada WiFi tidak ada fasilitas untuk mengkonfigurasi QoS; akibatnya yang terjadi sebetulnya seluruh traffic pada WiFi masuk dalam kategori “Best Effort”, yang artinya – bisa sampai sukur, tidak sampai ya nasib.





ika kita mengubah Tipe Scheduling yang digunakan, maka akan mengubah menu pilihan bandwidth yang dapat di alokasikan. Dalam contoh di perlihatkan untuk Non-Real-Time Polling Service, kita akan mempunyai kemampuan untuk mengkonfigurasi,


ika kita mengubah Tipe Scheduling yang digunakan, maka akan mengubah menu pilihan bandwidth yang dapat di alokasikan. Dalam contoh di perlihatkan untuk Real-Time Polling Service, kita akan mempunyai kemampuan untuk mengkonfigurasi,
Untuk traffic real-time akan sangat sensitif terhadap delay di jaringan. Oleh karena itu, ada tambahan parameter yang dapat di set, yaitu,




Jika kita mengubah Tipe Scheduling yang digunakan, maka akan mengubah menu pilihan bandwidth yang dapat di alokasikan. Dalam contoh di perlihatkan untuk Unsolicited Grant Service (UGS), kita akan mempunyai kemampuan untuk mengkonfigurasi,
Untuk traffic real-time akan sangat sensitif terhadap delay di jaringan. Oleh karena itu, ada tambahan parameter yang dapat di set, yaitu,
UGS mempunyai toleransi yang jauh lebih ketat di bandingkan dengan tipe scheduling yang lainnya.




Melalui menu SS List, kita mempunyai fasilitas untuk melihat daftar Subscriber Station (SS) yang di ijinkan untuk menyambungkan diri ke Base Station (BS) tertentu.
Kalau kita perhatikan baik-baik, pada daftar SS terdapat,
  • Nama SS
  • SS ID
Tidak terdapat informasi IP address dari masing-masing SS dll.
Melalui menu “Add New SS” kita dapat menambahkan SS yang diijinkan untuk menyambungkan diri ke BS yang sedang kita konfigurasi.


Pada masing-masing Subscriber Station (SS) yang ada kita perlu mengalokasikan QoS yang akan di peroleh. Hal ini dapat dilakukan dengan cara,
  • Meng-klik nama dari SS.
  • Memilih dan menambahkan QoS yang di alokasikan.
  • Menambah Classifer yang lebih detail untuk masing-masing QoS.
Mari kita bahas lebih detail dari Classifer untuk QoS yang di alokasikan. Konfigurasi Classifier dapat dilakukan dengan menggunakan perintah “Add Classifier” pada masing-masing QoS.




Pada menu konfigurasi Classifier yang sering dikonfigurasi adalah,
  • Select & Add
  • Prioritas
Konfigurasi detail yang menentukan sebuah QoS di arahkan untuk tujuan tertentu terdapat pada menu “Select & Add”, beberapa parameter tujuan yang dapat di set adalah,
Dengan menset parameter tersebut, maka kita dapat menset komputer mana saja yang memenuhi parameter tersebut yang dapat memperoleh sebuah QoS tertentu.


Pada menu SS Status kita dapat melihat status dari masing-masing SS apakah operasional atau tidak. Kita dapat memaksa sebuah SS untuk meregister ulang ke Base Station dengan meng-klik menu Deregister.


Pada menu SS Status, kita juga dapat melihat data yang lebih detail dari masing-masing SS. Beberapa data detail yang ada seperti jenis modulasi yang digunakan, FEC, kekuatan sinyal, tipe scheduling paket dll.


Menu Cell Timer jarang sekali di sentuh dan di set. Sebagian besar parameter Cell Timer dapat digunakan menggunakan nilai default yang ada.
Tapi bagi kita yang ingin menset berbagai parameter yang berkaitan dengan timer dari sebuah sel WiMAX dapat di set pada bagian ini. Ada banyak sekali parameter seperti DCD interval, DCD Transition, UCD Interval, UCD Transition, DL-MAP Interval, UL-MAP Interval, DSx Request Retries dan banyak sekali parameter lainnya.




Pada menu Cell Profile. Hal yang penting yang mungkin diset antara lain adalah,
  • BS Type – band yang digunakan.
  • BS Network Mode – mode operasi dari BS, default adalah Bridging Mode
  • Cell Radius – berapa besar Sel WiMAX.




Pada menu Network Servers, kita dapat mengkonfigurasi berbagai alamat dari Server yang dibutuhkan untuk operasional jaringan, seperti,

Tutorial Cara Install Windows 7 Dari Flash Disk Menggunakan Wintoflash




Banyak sekali pengguna Operating System Windows, Baik itu Windows XP maupun Windows 7. Namun ada suatu waktu Operating System tersebut mengalami kerusakan, seperti Windows sering Hang, kinerja menjadi lambat, ataupun alasan lainnya, yang memerlukan install ulang kembali Windows.
Bagi pengguna yang tidak memiliki DVD Disk Drive seperti Netbook kecil, atau internal DVD Drivenya rusak, mungkin ini cukup membingungkan, karena satu-satunya jalan menginstall ulang Windows hanya melalui Flashdisk.
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba memberikan sebuah tutorial install windows yang bisa bermanfaat bagi anda yaitu tentang Cara Mudah Install Windows 7 Dari Flash Disk. Cara ini dapat digunakan untuk Windows XP maupun Windows 7, dan cara ini sudah berulangkali saya coba sendiri ke berbagai macam Hardisk baik Komputer, Laptop, ataupun Netbook dan 100% sukses, Operating System windows 7 tersebut berhasil diinstal dengan sempurna, tanpa ada masalah.
Langkah pertama sebelum melakukan Cara instal Windows 7 Dengan Flash Disk yaitu kita harus memiliki Flashdisk yang telah terinstall Windows, kemudian kita jadikan Flashdisk tersebut Windows 7 Flashdisk Installer, anda dapat menyimpan Flashdisk tersebut sebagai windows ataupun diformat ulang untuk keperluan lain di masa yang akan datang.

Untuk Install Windows 7 Dari DVD dengan Sempurna Klik Link ini
Persiapan yang diperlukan hanya 3, yaitu:
1. Flashdisk minimal 4 Gb untuk Windows 7 dan 2 Gb untuk Windows XP.

2. Sumber Windows 7/XP (bisa dari DVD atau dari Hard Disk).
3. Software (Wintoflash) untuk Mentransfer CD installer Windows XP atau DVD installer Windows 7 ke Flashdisk. Download Wintoflash di link ini.

Catatan: Ada beberapa macam software yang dapat digunakan untuk mentransfer windows, namun menurut saya inilah yang sangat mudah dan sederhana, karena Software ini Gratis, dan tidak memerlukan Software pendukung lainnya. (Cukup Software ini saja).
Langkah-langkah Mentransfer Windows installer ke Flashdisk
1. Download Software Wintoflash (Disini saya menggunakan versi Terbaru 0.7.0054, Januari 2013), Pilih Latest Version (Perhatikan Versinya), karena versi sebelumnya berbeda. Hasil dari download di jalankan, kemudian akan download otomatis, dan hasilnya ada di Desktop, kemudian pindahkan (Copy atau Cut) hasil download ke mana saja, misalnya ke My Documents.
Download Wintoflash
Proses download Wintoflash
2. Setelah selesai Download, Kemudian klik kanan Extract menggunakan Winrar dan Jalankan Wintoflash.
Wintoflash
3. Saat Pertama kali dijalankan, Ada konfirmasi Persetujuan, (I Accept) kemudian Next- Next sampai Muncul Tampilan Windows Setup Transfer Wizard.
Menjalankan Wintoflash
4. Windows Setup Transfer Wizard, Pilih Tab Advanced Mode, Kemudian untuk Windows 7 Pilih Transfer Windows Vista/2008/7/8 setup to USB drive, Kemudian klik Create. (Untuk Windows XP Pilih Transfer Windows XP/2003 setup to USB drive).
Cara Install Windows 7 Dari Flash Disk Menggunakan Wintoflash
Cara Install Windows 7 Dari Flash Disk Menggunakan Wintoflash
Install Windows 7 Dari Flash Disk Menggunakan Wintoflash
5. Pilih drive Sumber Windows (Biasanya kepingan CD/DVD Windows) dan drive flashdisk yang akan ditransfer.
Cara Install Windows 7 Dari Flash Disk

Cara Install Windows 7 Memakai Flash Disk
Cara Install Windows 7
6. Klik Run, Dan tunggulah beberapa menit sampai proses transfer selesai, biasanya sekitar 5-15 menit, tergantung kecepatan komputernya. Jika telah selesai di exit saja, dan Flash Disk sudah terinstall Windows dan dapat digunakan.
7. Masukan Flash Disk Ke Laptop/Netbook/Komputer sebelum dinyalakan.
Install Windows 7 Dari Flash Disk
Cara Install Windows 7 Dari Flash Disk
8. Nyalakan Laptop, kemudian masuk ke Setup Menu dengan menekan F2 (Pada beberapa Laptop lain, mungkin dengan menekan Esc, Del, F1 kadang F10).
Persiapan Install Windows
9. Pilih setting Boot Pertama ke Flash Disk (USB), kemudian Exit dan Save, maka Laptop akan segera Restart.
10. Pada Langkah ini Instalasi Windows otomatis akan berjalan seperti biasa sebagaimana instalasi menggunakan DVD installer. Untuk Lebih Lengkapnya Proses Install Windows 7 Klik Disini
11. Jika Instalasi Windows telah selesai, Kemudian akan Restart, dan pada saat itu Cabutlah Flash Disk  untuk menghindari pengulangan Setup Windows, Kemudian Windows akan berjalan dengan sendirinya untuk Instalasi Lanjutan (Finalizing Instalation).

Catatan: Untuk Windows XP saya belum mencobanya, mungkin flashdisk jangan dicabut dulu, dan setting booting pada langkah 9, dikembalikan lagi kesemula, jadi Hard Disk yang Pertama Boot.
12. Setelah Restart, maka Anda akan menemukan bahwa Proses Instalasi Windows telah Sukses. 
 Selamat, Mudah-mudahan berjalan lancar.